Rabu, 26 Agustus 2015

  • Sumber Daya Alam Provinsi Papua
  • P
  • rovinsi ini sangat kaya dengan berbagai potensi sumberdaya alam. Sektor pertambangannya sudah mampu memberikan kontribusi lebih dari 50% perekonomian Papua, dengan tembaga, emas, minyak dan gas menempati posisi dapat memberikan kontribusi ekonomi itu. Di bidang pertambangan, provinsi ini memiliki potensi 2,5 miliar ton batuan biji emas dan tembaga, semuanya terdapat di wilayah konsesi Freeport. Di samping itu, masih terdapat beberapa potensi tambang lain seperti batu bara berjumlah 6,3 juta ton, barn gamping di atas areal seluas 190.000 ha, pasir kuarsa seluas 75 ha dengan potensi hasil 21,5 juta ton, lempung sebanyak 1,2 jura ton, marmer sebanyak 350 juta ton, granit sebanyak 125 juta ton dan hasil tambang lainnya seperti pasir besi, nikel dan krom.
  • Karena 90% dari daratan Papua adalah hutan, produk unggulan pun banyak lahir dari belantara yang dipadati lebih dari 1.000 spesies tanaman. Lebih dari 150 varientas di hutan itu merupakan tanaman komersial. Hutan di Papua mencapai 3l.079.185,77 ha, terdiri atas hutan konservasi seluas 6.436.923,05 ha (20,71%), hutan lindung 7.475.821,50 ha (24,05%), hutan produksi tetap 8.171606,57 ha (26,3 %), hutan produksi terbatas 1.816.319 ha (5,84%), dan hutan yang dapat dikonversi 6.354.726 ha (20,45%). Ditambah areal penggunaan lainnya 821.787,91 ha (2,64%). Hutan hutan di provinsi ini memberikan kontribusi yang cukup besar bagi pendapatan asli daerah, Contoh, sebanyak 323.987m3, kayu bangunan/timber sebanyak 1.714 m3, kayu balok olahan/block board sebanyak 1.198 m3, triplek/plywood sebanyak 88.050 m3 dan kayu olahan/chips sejumlah 45.289 m3.
  • Di sektor perkebunan, dari 5.459.225 ha lahan yang ada, tak kurang dari 160.547 ha sudah dimanfaatkan untuk perkebunan rakyat (PR) maupun perkebunan besar (PB), tenaga kerja dengan total produksi 62.153 ton. Komoditas unggulan pada 2005 dengan total produksi 12.347 ton (19,87%), sawit dengan produksi 31.021 ton (49,91%), kakao dengan produksi 11.363 ton (18.28%), kopi Arabic produksi 2.583 ton (4.16%), buah merah dengan produksi 1.889 ton (3,04%) dan karet dengan total produksi 1.458 ton (2,35%). Pada 2005 kayu mencapai 20.711 ton dan Jayapura dengan produksi 2.444 ton pada 2005. produksi sayur mayur selama 2005 hanya mencapai 13,99 ton, menurun dibandingkan dengan 2004 yang mencapai 25,78 ton.
  • Provinsi ini memiliki lahansawah beririgasi teknis seluas 3.845 ha pada 2006, beririgasi nonteknis 3.696 ha. Total saluran irigasi primer mencapai 1.984 km, irigasi sekunder 23,45 km sementara irigasi tersier 4,25 km. Sawah sawah tersebut dapat menghasilkan 61.922 ton padi, meningkat dibanding dua tahun terakhir mencapai 61.750 ton. Pada saat Panen Raya Padi di Merauke, padatanggal 5 April 2006, Presiden berharap bahwa: ”Merauke menjadi sentara pertumbuhan baru, bukan hanya untuk padi, tetapi juga untuk sektor lainnya”. Presiden berpesan, ... ”ketika terjadi pertumbuhan sawah, pertumbuhan tebu, pertumbuhan kelapa sawit, nantinya pendidikan dan lain lain, tenaga kerja dan lain-lain, tolong sekali lagi diperhatikan dan ditingkatkan kesejahteraan penduduk asli sehingga betul-betuk kesetaraan yang baik, dengan demikian dapat meningkatkan persaudaraan dan harmoni diantara semua warga yang ada di daerah ini”.
  • Di sektor perikanan, memiliki kekayaan yang kurang besar di sepanjang 1.170 mil garis pantai yang dipenuhi ribuan pulau pulau kecil. Provinsi ini memiliki terumbu karang terkaya dan terbaik di dunia. Hutan bakau terluas dan terbaik di dunia, dengan berbagai jenis ikan mulai dari pelagis besar, kecil, kerapu, udang, teripang, kerang, dan lain lain. Potensi lestari perikanan Papua sebesar 1.404.220 ton per tahun, dengan produksi tahun 2005 mencapai 209.210,3 ton, meningkat 13,29% dibanding produksi 2004 yang hanya mencapai 180.612,4 ton. Dari produksi perikanan, 95,83% merupakan hasil produksi perikanan laut dengan nilai produksi selama 2005 mencapai Rp. 2.215 miliar atau menurun 44,86% banding 2004 yang mencapai Rp 2.451 miliar.
  • Populasi ternak besar dan kecil selama tahun 2005 umumnya naik. Ternak kerbau pada 2005 naik 14,54% dari 1.131 ekor pada 2004 menjadi 1.292 ekor pada tahun 2006, sementara ternak kuda dari 1.576 ekor pada 2004 menjadi 1.501 ekor pada 2005 lalu meningkat menjadi 2.061 ekor pada 2006. Kenaikan persentase dialami ternak sapi (8,6%), kambing (5,37%) dan babi (19,50%). Populasi ternak kecil, antara lain ini kampung naik 18,99%, ayam pedaging naik 90% dan ayam ras petelur meningkat 19,58%.
  • Sumber: Indonesia Tanah Airku (2007)


  • KATADATA – Pemerintah telah membentuk Tim Kajian Kebijakan Pengelolaan Sumber Daya Alam bagi pembangunan ekonomi di Papua. Pembentukan tim ini dilakukan melalui Keputusan Presiden Nomor 16 Tahun 2015 pada 21 Mei lalu.
  • Pembentukan tim ini merupakan upaya untuk mempercepat pembangunan ekonomi di Papua. Pemerintah memandang perlu mengeluarkan kebijakan pembangunan yang berbasiskan pada sumber daya alam, dengan memperhatikan asek ekonomi, sosial, budaya, hukum dan lingkungan di Papua.
  • “Tim ini bertugas untuk melakukan evaluasi dan kajian terhadap kebijakan pengelolaan sumber daya alam di Papua, dalam rangka pembangunan ekonomi Papua,” bunyi Keppres tersebut, seperti dikutip dari laman Sekretarias Kabinet, Selasa (9/10).
  • Evaluasi ini dilakukan dengan mempertimbangkan sinergi kebijakan antara Pemerintah pusat dan Pemerintah Daerah dalam pembangunan ekonomi Papua berbasis sumber daya alam. Pertimbangan lainnya adalah kondisi ekonomi, sosial, budaya, dan lingkungan di Papua; Peningkatan penerimaan negara; dan langkah-langkah yang diperlukan untuk pelaksanaan kewajiban pengelolaan sumber daya alam, terutama dalam rangka melakukan pengolahan dan pemurnian mineral terhadap hasil pembangunan mineral di Papua.
  • Dalam Keppres tersebut Presiden menunjuk Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Andrinof Chaniago untuk memimpin tim ini. Sedangkan Sekretaris tim ini diisi oleh Deputi Bidang Polhukam Kementerian PPN/Bappenas dan Direktur Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).
  • Adapun anggotanya terdiri dari Menteri ESDM, Menteri Keuangan, Menteri Dalam Negeri, Menteri Hukum dan HAM, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Menteri BUMN, Menteri Perindustrian, Menteri Perdagangan, Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional, Jaksa Agung, Kepala BKPM, Gubernur Papua, Gubernur Papua Barat, dan Deputi I Bidang Monitoring dan Evaluasi Kantor Staf Presiden.
  • Dalam melaksanakan tugasnya, Tim melibatkan, bekerjasama dengan kementerian dan lembaga pemerintah lainnya, pemerintah daerah, pemangku kepentingan, badan usaha dan pihak lain yang terkait. Selain itu, Tim dapat merekrut tenaga ahli perseorangan, institusi, dan badan usaha.
  • Tim Kajian Pengelolaan Sumber Daya Alam Papua mulai bekerja sejak 21 Mei hingga akhir tahun 2015. Presiden meminta Tim melaporkan hasil pelaksanaan tugasnya setiap satu bulan, atau sewaktu-waktu apabila diperlukan. Laporan tersebut akan dijadikan model bagi pengelolaan sumber daya alam lainnya di daerah tersebut.
  • Sementara biaya yang diperlukan dalam pelaksanaan tugas tim ini akan dibebankan pada anggaran Kementerian ESDM tahun ini.
  • Papua dan Sumber Daya Alam-nya (1)
  • Provinsi ini sangat kaya dengan berbagai potensi sumberdaya alam. Sektor pertambangannya sudah mampu memberikan kontribusi lebih dari 50% perekonomian Papua, dengan tembaga, emas, minyak dan gas menempati posisi dapat memberikan kontribusi ekonomi itu. Di bidang pertambangan, provinsi ini memiliki potensi 2,5 miliar ton batuan biji emas dan tembaga, semuanya terdapat di wilayah konsesi Freeport. Di samping itu, masih terdapat beberapa potensi tambang lain seperti batu bara berjumlah 6,3 juta ton, batu gamping di atas areal seluas 190.000 ha, pasir kuarsa seluas 75 ha dengan potensi hasil 21,5 juta ton, lempung sebanyak 1,2 jura ton, marmer sebanyak 350 juta ton, granit sebanyak 125 juta ton dan hasil tambang lainnya seperti pasir besi, nikel dan krom.
  • 1. Potensi Mineral
  • Daerah Prospek Wabu
  • Berdasarkan hasil eksplorasi yang dilakukan oleh PT Freeport Indonesia cadangan emas tereka yang ada di daerah Wabu adalah sebesar + 116 juta ton bijih dengan kandungan Au rendah. Dari hasil pemboran diketahui bahwa pada BO401 sampai kedalaman 203 meter dijumpai adanya 4 lapisan batuan yang mengandung emas dengan ketebalan total 27 meter dengan kandungan emas berkisar dari 0,97 gram/ton sampai 5,13 gram/ton. Pada BO402 dijumpai lapisan tunggal setebal 45 meter dengan kandungan emas 2,59 gram/ton
  • Daerah Prospek Pagane
  • Dari contoh batuan paritan uji di daerah Pagane, perubahan serisit+pirit pada intrusi di daerah tersebut berkaitan dengan adanya nilai kandungan emas. Sebagian alterasi pilik dipotong oleh alterasi mineral lempung. Zona skarn berkembang di bagian tepi dari alterasi pilik. Mineralisasi tembaga terbentuk pada endoskarn yang bersumber dari larutan hidrotermal. Dari hasil pemboran pada lubang BO20 dijumpai adanya lapisan batuan yang mengandung emas dengan kadar 14,33 gram/ton. Analisa terhadap inti pemboran di lubang lubang lain terus dilaksanakan sehingga akan diperoleh gambaran yang lebih detail dari daerah prospek ini.
  • Daerah Prospek Holomana
  • Keterdapatan Au-Cu-Pb-Zn  dengan nilai tinggi di dalam kelompok Batugamping New Guinea sebagaimana tercermin dari hasil pemboran pada lubang HL07-1 dan HL07-2 yang mengandung lapisan batuan dengan tebal total 18 meter dengan kandungan emas sebesar 29,39 gram/ton diinterpretasikan sebagai bagian tepi atau bagian atas dari sebuah sistem propiri. Sebagai tambahan, batulanau gampingan-batulempung dan batugamping dari kelompok batugamping new guinea yang tersingkap di daerah ini mungkin dapat diperkirakan sebagai sumber dari mineralisasi skarn, dimana terdapat kontak dengan porfiri diorit. Pengutupan Terimbas metode dwi kutup berpasangan mengindikasikan bahwa di daerah ini terdapat anomali logam.
  • Daerah Prospek Duabu
  • Dari hasil analisa conto paritan uji dan conto tanah terdapat nilai yang menarik di area tersebut. Anomali Pb+ Zn-Cu terdapat di selatan. Batuan di daerah +tersebut adalah Diorit – mikrodiorit. dengan ubahan silika menunjukkan nilai As+Sb+Ag yang cukup tinggi. Pemetaan di sekitar H# 51 menunjukkan adanya zona ubahan silika secara intensif yang berasosiasi dengan anomali geokimia logam dasar dan emas. Singkapan diorit berbutir kasar sampai sedang di daerah ini kemungkinan berhubungan dengan ubahan, meskipun intrusi itu sendiri hanya mengalami ubahan secara lemah.
  • Daerah Prospek Minjauh
  • Silika lempung dan atau silika-lempung-serisit-klorit dijumpai pada daerah ini yang terkontrol oleh patahan atau rekahan. Hal ini mengesankan bahwa patahan dan perekahan terjadi sebelum alterasi. Hasil soil sampling mengindikasikan nilai tinggi Ni dan Cu dengan lebar 400 meter berarah barat laut dengan sedikit zona Pb dan Zn, Mo dan Ag yang bernilai tinggi dijumpai secara lokal. Zona ini sejajar dengan patahan dalam berarah baratlaut. Patahan ini mungkin merupakan jalan bagi intrusi dalam yang telah disebutkan. Pola lain dari anomali adalah nilai tinggi Cu-Pb-Zn, yang ditemui pada bagian utara dengan panjang 600 meter dan lebar 200 meter. Pola ini sejajar dengan batas sedimen-volkanik dan atau patahan anjak.
  • Daerah Prospek Mandoga
  • Mineralisasi Cu-Au semakin berkembang di Mandoga dan dibatasi ke zona alterasi skarn dalam breksia dan daerah yang berkembang tiff yang menjari. Secara petrografi mineral sulfida yang dikenali terdiri atas chalcopirit, bornite, pyrite, pyrrhotite dan asrnopirit. Magnetit dan hematit sering berasosiasi. Au dipikirkan berasosiasi dengan fase Cu-Sulfida.
  • Skarn metasomatisme sekali-sekali ditemukan tetapi berkembang luas di breksia di Prospek Mandoga. Mineral skarn yang dikenali adalah granet, magnetit, hematit, clinopiroksen dan allanite. Alterasi skarn secara istimewa hadir di dalam breksia sebagai batuan induk berupa komponen matriks. Breksia adalah hasil ubahan jauh lebih kuat di dalam batuan vulkanik. Bagian tepi mineralisasi Pb/Zn/Ag berada di selatan dari Mandoga meungkin hadir kembali Gossan yang berkembang di tas struktur yang dikontrol oleh skarn mendatar yang menyerupai model “Big Gossan”.
  • Mineralogi penyusun komposisi Cu-Fe mengklasifikasikan skarn Mandoga sebagi model percampuran antara tembaga-emas skarn dari Ertzberg dan Big Gossan, dan tidak menunjukkan hubungan yang dekat dengan skarn emas seperti di Wabu.
  • Sumber Daya Geologi Provinsi Papua
  • Peta Potensi Sumber Daya Geologi yang tersedia pada badan Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup Provinsi papua terdiri dari :
  • Peta Sebaran Batuan Pembawa Logam di Kabupaten Biak Numfor
  • Peta Potensi Sumber Daya Mineral Logam serta Sebaran Batuan Pembawa Logam diKabupaten Jayapura
  • Tabe lPotensi Mineral Logam Di Kabupaten Jayapura
  • Peta Potensi dan Formasi Pembawa Batubara di Kabupaten Jayapura
  • Tabel Potensi Batubara di Kabupaten Jayapura
  • Peta Sebaran Batuan Pembawa Logam di Kabupaten Keerom
  • Peta Formasi Pembawa Batubara di Kabupaten Keerom
  • Peta Sebaran Batuan Pembawa Logam di Kota Jayapura
  • Peta Potensi Sumber Daya Mineral Non Logam di Kota Jayapura
  • Tabel Potensi Mineral Non Logam Di Kota Jayapura
  • Peta Formasi Pembawa Batubara di Kota Jayapura
  • Peta Potensi Sumber Daya Mineral Non Logam di Kabupaten Merauke
  • Tabel Potensi Mineral Non Logam Di Kabupaten Merauke
  • Peta Sebaran Batuan Pembawa Logam di Kabupaten Sarmi
  • Peta Potensi Sumber Daya Mineral Non Logam di Kabupaten Sarmi
  • Tabel Potensi Mineral Non Logam Di Kabupaten Sarmi
  • Peta Formasi Pembawa Batubara di Kabupaten Sarmi
  • Peta Sebaran Batuan Pembawa Logam di Kabupaten Supiori
  • Peta Potensi Sumber Daya Mineral Non Logam di Kabupaten Supiori
  • Tabel Potensi Mineral Non Logam Di Kabupaten Supiori
  • Peta Sebaran Batuan Pembawa Logam di Kabupaten Tolikara
  • Peta Sebaran Batuan Pembawa Mineral Logam di Kabupaten Waropen
  • Peta Formasi Pembawa Batubara di Kabupaten Waropen
  • Peta Sebaran Batuan Pembawa Logam di Kabupaten Yapen
  • Peta Formasi Pembawa Batubara di Kabupaten Yapen
  • Peta Potensi Sumber Daya Mineral Logam serta Sebaran Batuan Pembawa Logam diKabupaten Paniai
  • Tabel Potensi Mineral Logam Di Kabupaten Paniai
  • Peta Formasi Pembawa Batubara di Kabupaten Paniai
  • Peta Potensi Sumber Daya Mineral Logam serta Sebaran Batuan Pembawa Logam diKabupaten Puncak Jaya
  • Tabel Potensi Mineral Logam Di Kabupaten Puncak Jaya
  • Peta Sebaran Batuan Pembawa Logam di Kabupaten Nabire
  • Peta Formasi Pembawa Batubara di Kabupaten Nabire
  • Peta Sebaran Batuan Pembawa Logam di Kabupaten Mimika
  • Tabel Potensi Mineral Logam Di Kabupaten Mimika
  • Peta Formasi Pembawa Batubara di Kabupaten Mimika
  • Peta Formasi Pembawa Batubara di Kabupaten Boven Digoel
  • Peta Sebaran Batuan Pembawa Logam di Kabupaten Asmat
  • Peta Formasi Pembawa Batubara di Kabupaten Asmat
  • Peta Sebaran Batuan Pembawa Logam di Kabupaten Jaya Wijaya
  • Peta Formasi Pembawa Batubara di Kabupaten Jaya Wijaya
  • Peta Sebaran Batuan Pembawa Logam di Kabupaten Yahukimo
  • Peta Formasi Pembawa Batubara di Kabupaten Yahukimo

    Tidak ada komentar:

    Posting Komentar